Featured Posts Coolbthemes

RSS

Mengapa Gatal Biasanya Digaruk ? Ini Alasannya. :)


Banyak penjelasan untuk menjawab mengapa gatal terobati segera setelah menggaruknya. Dan beberapa penjelasan yang disukai adalah aktivitas menggaruk ternyata membantu pelepasan rasa sakit; endorphins. Atau menggaruk juga menjadi penyebab terdistribusikan sensasi gatal yang dipicu oleh histamine yang terkonsentrasi di satu lokasi menjadi tersebar.

Tetapi informasi yang termuat dalam harian Nature Neuroscience merinci alasan lain mengapa menggaruk dapat mengurangi rasa gatal. Menggaruk ternyata menurunkan aktivitas pada neron susunan saraf tepi transmisi rasa gatal ke otak.

Meski mekanisme fisiologi tentang bagaimana menggaruk dapat memulihkan rasa gatal sangat sulit dipahami. Para ilmuwan dapat menggambarkan bahwa neuron yang berada khusus di susunan saraf tepi – spinothalamictract (STT), STT menjadi lebih aktif ketika gagal, informasi ini kemudian diteruskan ke otak.

Untuk memahami gejala ini, seorang neuroscientist, Glenn J. Geisler dari Universitas Minnesota di Minneapolis bersama koleganya melakukan percobaan pada hewan primata. Dalam penelitian ini para ilmuwan menyuntikkaan histamin. Mereka menemukan bahwa menggaruk kulit memblok aktivitas neuron spinothalamic. Tetapi yang menarik hal itu hanya berpengaruh pada permukaan kulit yang gatal lantaran terpicu oleh histamin.

Dugaan itu kemudian ditulis, menggaruk menghambat transmisi rasa gatal dari susunan saraf tepi bergantung pada aksi yang dilakukan. Hal itu berarti aktivitas neuron STT tidak berkurang walaupun digaruk jika si monyet tidak merasa gatal.

Pengurangan aktivitas neuron karena menggaruk hanya terjadi ketika kulit terasa gatal dan bila neuron membawa informasi itu ke otak. Menggaruk baru akan menghambat transmisi bila sinyal “gatal” datang yang berujung pada hilangnya rasa gatal.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

 

Mengapa Kita Butuh Mimpi Dalam Tidur?



Orang mengatakan waktu dapat menyembuhkan semua luka. Itu ternyata ada benarnya. Riset terbaru dari University of California, Berkeley, mengindikasikan bahwa lamanya waktu bermimpi ketika tidur dapat mengatasi penderitaan yang menyakitkan.

http://image.tempointeraktif.com/?id=63871&width=475

Peneliti UC Berkeley menemukan bahwa, selama fase mimpi dalam tidur, atau tidur rapid eye movement (REM), yaitu ketika bola mata bergerak cepat saat tidur, zat kimia stres dipadamkan dan otak memproses pengalaman emosional dan mengikis memori yang menyakitkan.

Temuan ini menawarkan sebuah penjelasan yang menarik soal mengapa orang yang menderita kelainan stres pasca-kejadian traumatis, seperti veteran perang, menemui kesulitan untuk pulih dari pengalaman yang membuatnya tertekan dan berulang kali dihantui mimpi buruk. Penelitian ini juga menawarkan jawaban mengapa kita bermimpi.

"Tahap mimpi tidur, berdasarkan komposisi neurokimianya yang unik, memberikan semacam terapi sepanjang malam, sejenis balsam menenangkan yang membuang semua hal yang tajam dari pengalaman emosional pada hari sebelumnya," kata Matthew Walker, dosen psikologi dan neuroscience di universitas itu yang terlibat dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology.

Bagi penderita stres pasca-peristiwa traumatis, terapi malam ini mungkin tidak bekerja secara efektif. "Sehingga ketika kilas balik, misalnya dipicu oleh ban mobil meletus, mereka mengalami kembali seluruh pengalaman mengerikan itu karena emosinya tidak disingkirkan dari memori dengan benar selama tidur," kata Walker.

Hasil studi ini menawarkan berbagai informasi tentang fungsi emosional tidur REM, yang biasanya mencakup 20 persen dari waktu tidur seorang manusia sehat.

Studi otak sebelumnya mengindikasikan bahwa pola tidur sehat itu tidak berjalan sebagaimana mestinya pada orang yang menderita kelainan seperti trauma dan depresi.

Sumber :
tempo.co

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Diberdayakan oleh Blogger.